Fishquarium

Kamis, 05 Januari 2012

KEJUJURAN CERMIN GENERASI MUDA BERKARAKTER

KEJUJURAN CERMIN GENERASI MUDA BERKARAKTER

A.   PENDAHULUAN
Generasi muda adalah tunas-tunas bangsa yang kelak akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita negara. Negara Indonesia membutuhkan generasi muda yang berpotensi agar bisa bersaing dengan negara lain. Generasi muda Indonesia harus cerdas, berwawasan  dan berpengetahuan luas. Di samping itu, negara juga membutuhkan generasi muda yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia yang kelak akan melanjutkan kepemimpinan di negara ini. Di tangan generasi muda yang berakhlak mulia inilah negara akan makmur dengan rakyat yang sejahtera.
Generasi muda yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia adalah generasi yang berkarakter. Secara leksikal, karakter adalah akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pada kenyataannya generasi muda sekarang ini banyak yang berkarakter kurang baik. Dari hal yang paling kecil saja, misalnya sopan santun atau tatakrama anak muda dengan yang lebih tua terabaikan. Seorang siswa bermain ke rumah temannya, dengan santai ia keluar masuk rumah tanpa menyapa tuan rumah. Saat pulang pun tanpa berpamitan. Di sekolah, seorang siswa juga kurang hormat kepada gurunya, apalagi yang merasa dekat dengan sang guru. Contoh lain yang bisa dilihat kurangnya karakter generasi muda adalah hal-hal yang berkaitan dengan kejujuran. Kejujuran makin lama makin luntur. Para remaja tidak takut dosa akibat tidak jujur. Bahkan, mereka rela melakukakan suatu tindakan tidak jujur asalkan memberikan keuntungan bagi mereka. Contohnya sangat banyak dan kompleks. Anak minta uang lebih kepada orang tua dengan alasan untuk membeli ini itu padahal digunakan untuk senang-senang itu hal yang biasa. Anak berpamitan kepada orang tua ada kegiatan di sekolah padahal dia hura-hura bergaul bebas itu juga sering terjadi. Mencontek ulangan maupun tugas sekolah itu juga selalu dilakukan anak demi memperoleh nilai yang baik. Untuk menghindari karakter yang demikian di masa depan, maka perlu diterapkannya pendidikan karakter.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter ini bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan para siswa mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta memersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan karakter ini sangat diperlukan untuk membentuk generasi yang berkarakter, yaitu berbudi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia, khususnya para pelajar.
Kejujuran adalah salah satu pendidikan karakter yang harus diterapkan pada peserta didik di setiap mata pelajaran dan harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan kejujuran di segala kegiatan harus dilakukan sejak dini  karena kejujuran adalah kunci kesuksesan. Sekali orang berlaku tidak jujur maka ia akan melakukan tindakan tidak jujur tersebut untuk menutupi ketidakjujuran yang pertama. Hal itu akan terus-menerus dilakukan apalagi jika hal itu menguntungkan. Tanpa kejujuran, kita tidak akan sukses. Tetapi penerapan kejujuran ini sangat susah, apalagi di lingkungan sekolah. Kita harus melakukannya sedikit demi sedikit untuk mengubah sikap ketidakjujuran para pelajar, untuk meningkatkan kualitas generasi muda yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia.
B.   PEMBAHASAN
Dalam aktivitas sehari-hari pada umumnya para siswa mengabaikan pentingnya kejujuran. Banyak siswa yang belum bisa berlaku jujur meskipun itu menyangkut hal-hal yang sangat sepele. Contohnya saat beraktivitas di luar rumah siswa berpamitan kepada orangtuanya dengan alasan ada kegiatan di sekolah, padahal dia hanya bermain. Kondisi akan menjadi parah jika ternyata mereka melakukan pergaulan bebas, mabuk-mabukan, dan mengonsumsi narkoba. Jika ini terjadi maka ia tidak hanya berlaku tidak jujur akan tetapi bisa juga melakukan tindakan kriminal karena kebutuhan uang mereka semakin banyak.
Contoh ketidakjujuran yang lain adalah para siswa pada umumnya mencontek saat ulangan, mencontek tugas milik teman hanya demi mengejar nilai dan keamanan dari hukuman guru-guru. Padahal apa yang dilakukan itu akibatnya sangat fatal. Selain berlaku tidak jujur juga akan merugikan diri sendiri karena siswa jadi tidak menguasai materi dan ilmunya. Tindakan ini dilakukan oleh hampir semua siswa. Yang dipikirkan hanya kebutuhan sesaat yaitu bagaimana caranya agar nilai selalu baik. Apa jadinya negara ini jika generasi mudanya ternyata tidak punya kompetensi? Karena bisanya hanya mencontek.
Para guru mungkin sudah berusaha meminimalisasi kegiatan mencontek yang dilakukan siswa pada saat ulangan. Contohnya menggunakan strategi A-B-A-B, strategi ini bertujuan agar siswa yang duduk bersebelahan tidak saling mencontek, tapi tetap saja mereka tukar-menukar jawaban. Strategi lain yang dilakukan guru adalah saat ulangan kelas dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok yang pertama mengerjakan ulangan terlebih dahulu dan kelompok kedua menunggu di luar kelas, begitu sebaliknya, tetapi siswa tetap saja bekerja sama. Yaitu dengan cara kelompok yang di luar membuat keramaian untuk memancing guru ke luar kelas, sehingga siswa yang berada di dalam kelas mempunyai kesempatan untuk mencontek. Akan tetapi, ada juga guru yang membiarkan siswanya mencontek pada saat ulangan, contohnya setiap meja (2 siswa) mendapatkan 1 bendel soal, hal ini sangat memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling mencontek. Berbagai macam cara sudah dilakukan oleh para guru. Akan tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Banyak cara yang dilakukan guru,  ternyata cara siswa untuk mengelabuhi guru jauh lebih banyak.
Pihak sekolah juga sudah berusaha mengurangi adat mencontek siswa. Contohnya di saat tes semester, siswa kelas X bersebelahan dengan kelas XI atau XII, dan mapel tiap kelas berbeda. Tetapi tetap saja siswa berhasil mencontek. Bahkan tanya kepada kakak kelas di sebelahnya, bisa juga sebelahnya membantu mengoperkan jawaban ke teman yang lainnya.
Ada beberapa solusi yang mungkin bisa mengurangi ketidakjujuran siswa di saat pembelajaran, antara lain:
1.    Peningkatan Pengetahuan tentang Iman dan Taqwa (Imtaq)
Pengetahuan tentang Imtaq sangat penting untuk melatih kejujuran para siswa. Karena, Imtaq ini berhubungan dengan kepercayaan masing-masing siswa.
Di semua agama pasti mengajarkan kepada umatnya untuk tidak berbohong. Kita harus jujur dalam segala hal. Termasuk dalam kegiatan pembelajaran . Disebutkan juga bahwa kujujuran adalah kunci dari kesuksesan. Tanpa kejujuran semua yang kita lakukan tidak akan ada gunanya.
Hal-hal yang dapat dilakukan sesuai dengan ajaran agama untuk meningkatkan kejujuran yaitu dengan cara shalat 5 waktu untuk yang beragama Islam, rajin ke Gereja untuk yang beragama Kristen, dan lain-lain. Hal ini mungkin dapat mengurangi ketidakjujuran karena Imtaq berhubungan dengan batin seseorang.
Peningkatan iman dan taqwa yang paling efektif bermula dari lingkungan keluarga. Penanaman keimanan dan ketaqwaan harus dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang baik adalah keluarga yang selalu menjalankan ibadah dengan baik. Salah satunya akan tercermin pada sikap jujur.
2.    Penanaman Percaya Diri
Penanaman percaya diri seorang siswa sangatlah penting untuk meningkatkan kejujuran. Karena jika kita mempunyai rasa percaya diri, kita tidak akan mencontek pekerjaan milik teman karena kita yakin dengan jawaban kita sendiri. Dalam penanaman percaya diri di sekolah, peranan guru BK sangatlah penting. Guru BK mengajarkan kepada muridnya untuk memiliki rasa percaya diri.
Strategi yang dilakukan guru BK seharusnya tidak hanya menasihati saja, namun ada cara lain yang lebih menarik. Contohnya dengan menunjukkan kepada siswa bukti otentik yang mengandung unsur percaya diri,dengan memberikan bukti seorang siswa mempunyai nilai yang lebih bagus dari temannya karena tidak mencontek, sedangkan teman yang mencontek mendapatkan nilai lebih rendah. Selanjutnya yaitu dengan cara membandingkan antara siswa yang mencontek dan menconteki, kemungkinan besar siswa mencontek lebih bagus nilainya daripada siswa menconteki karena siswa yang mencontek tidak hanya mencontek dari 1 sumber, pasti menggabungkan sumber-sumber contekan yang lainnya.
Strategi selanjutnya yang sebaiknya dilakukan oleh guru BK yaitu dengan mengajak siswa untuk praktik mengerjakan tugas dengan belajar sendiri dan mencontek. Dengan ini siswa akan mengerti perbedaan antara mengerjakan sendiri dibanding mencontek. Jika siswa mengerjakan sendiri, maka siswa akan mencari jawaban di buku dan siswa menjadi tahu maksud dari soal itu. Berbeda lagi dengan mencontek, jika mencontek siswa tidak tahu apa maksud soal bahkan tidak mau tahu apa soalnya, siswa hanya menginnginkan jawaban. Dengan strategi ini siswa dapat mengerti pentingnya percaya diri dan kejujuran pun meningkat.
3.    Siswa Membuat, Menjawab, dan Mengoreksi Soal Sendiri
Siswa membuat, menjawab, dan mengoreksi soal sendiri merupakan alternatif yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketidakjujuran. Cara ini juga akan melatih siswa selalu aktif, kreatif, dan berusaha menguasai materi pelajaran. Pertama-tama siswa diajak untuk membuat soal sendiri, tentunya dengan panduan guru. Disarankan agar soal siswa yang satu dengan yang lainnya tidak sama, dan soal itu belum pernah dikerjakan dan dibahas di sekolah. Langkah berikutnya, soal ditukar dengan soal milik siswa lain. Setelah mengerjakan, siswa mengembalikan jawaban kepada pembuat soal untuk dikoreksi. Demi menjaga nama diri sendiri maka siswa akan berusaha menemukan jawabannya dan tidak akan mau kalah dengan teman lain.  Siswa akan berusaha mencari soal di buku atau di ineternet. Mau tidak mau siswa akan banyak membaca.
Setelah siswa mencari soal, siswa disuruh mengerjakan soal yang dicarinya itu tetapi tidak dengan membuka buku. Di sini akan dapat dibuktikan siswa yang benar-benar paham atau tidak tentang soal yang dicarinya.
Setelah siswa mengerjakan soal, siswa disuruh mengoreksi pekerjaannya sendiri. Di sinilah letak pelajaran kejujurannya. Soal yang tadi dikerjakan siswa dikoreksi siswa sendiri, dicocokkan dengan kunci jawaban yang sudah didapatkannya. Cara ini dapat digunakan untuk menguji dan melatih kejujuran siswa.
4.    Sekolah Mengadakan Kompetisi Antarsiswa
Dengan diadakannya kompetisi di dalam sekolah dimungkinkan akan meningkatkan kejujuran. Contohnya dengan diadakannya lomba mata pelajaran antarsiswa. Cara ini mungkin berhasil jika dilakukan dengan serius.
5.    Sering Mengirim Siswa Berkompetisi di Luar Sekolah
Cara ini juga dimungkinkan melatih kejujuran siswa. Lomba mata pelajaran contohnya. Dengan persaingan antarsekolah, kemungkinan mencontek dalam mengerjakan soal presentasenya kecil karena antarpeserta lomba bersaing menjadi pemenang, maka dari itu mereka tidak akan saling mencontek.
Beberapa strategi peningkatan kejujuran di atas sangat mudah dipraktikkan dalam kegiatan pembelajaran. Apalagi untuk melatih kejujuran siswa. Siswa diperkirakan akan antusias mengikuti strategi di atas. Tanpa disadari mereka telah berlatih jujur di lingkungan sekolah. Jika di lingkungan sekolah siswa sudah bisa menerapkan sikap jujur, maka sikap jujur itu akan terbawa di mana pun mereka berada. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga menjadi manusia berkarakter yang memiliki kompetensi tinggi.
Dari satu hal kecil yaitu kejujuran yang dilatih sejak dini dapat membentuk siswa menjadi siswa berkarakter. Kejujuran harus diselipkan di setiap mata pelajaran karena kejujuran menjadi urat nadi perilaku manusia. Meskipun sangat sulit, kejujuran adalah sesuatu yang wajib dilakukan setiap siswa demi meraih sukses di masa depan.
C.   PENUTUP
1.    Simpulan
Negara kita sangat membutuhkan generasi muda yang berkompetensi tinggi dan berbudi pekerti luhur. Dari hal yang paling kecil untuk menciptakan generasi muda yang berkompetensi tinggi yaitu dengan melatih kejujuran kepada siswa. Karena banyak sekali siswa yang kurang memperhatikan kejujuran.
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kejujuran pada siswa, yaitu:
a.    Peningkatan pengetahuan tentang iman dan taqwa (Imtaq)
b.    Penanaman percaya diri
c.    Siswa membuat, Menjawab, dan mengoreksi soal sendiri
d.    Sekolah mengadakan kompetisi antarsiswa
e.    Sering mengirim biswa berkompetisi di luar sekolah
2.    Saran
a.    Orang tua harus menanamkan kejujuran sejak dini dalam keluarga karena karakter anak akan terbentuk dari keluarga. Hal ini bisa dilakukan dengan penanaman iman dan taqwa. Teladan orang tua akan menjadi cermin bagi setiap anaknya.
b.    Sekolah sebaiknya betul-betul menerapkan pendidikan karakter secara nyata di setiap pembelajaran yaitu dengan mengutamakan kejujuran. Pemberian kepercayaan kepada siswa sangat penting agar siswa secara sadar selalu bertindak jujur di segala perilaku.
c.    Siswa SMA adalah manusia yang sudah dewasa. Oleh karena itu, ia harus menjadikan kejujuran sebagai bekal dan pedoman hidup. Berlaku jujur adalah kebutuhan pribadi yang akan dinikmati hasilnya kelak di masa depan.

VIRGARI CN / SMAN 1 SALATIGA
YUHARSEN ERGI / SMAN 1 SALATIGA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar